IT bagi Guru; Antara Biaya dan Upaya
HM. Muntahibun Nafis
Derap langkah
kaki kemajuan dan perkembangan dunia ini semakin cepat. Manusia disuguhkan
dengan berbagai pilihan “menu” kehidupan yang beranekaragam. Keanekaragaman
tersebut tidak jarang membingungkan dan bahkan dalam kondisi tertentu malah
menjadikan manusia kehilangan martabatnya. Hal tersebut dikarenakan manusia
tidak mampu menempatkan dirinya menjadi subjek dari kemajuan tersebut. Manusia
terkadang menjadi obyek dari kemajuan. Misalnya saja ketika manusia dihadapkan
oleh kemajuan modernisasi seperti kemajuan Informasi dan teknologi (IT),
manusia tidak mampu menjadikan IT sebagai sarana yang bisa bermanfaat bagi kehidupannya,
manusia malah merusak martabat dan kehidupannya. Contohnya ketika IT malah
menjadi perusak ekosistem dan merusak moral generasi penerus.
Pendidikan
sebagai salah satu segi kehidupan manusia yang mampu membangun peradaban yang
lebih baik memiliki peran penting yang tidak bisa dikesampingkan. Melalui
pendidikan diharapkan manusia mampu menjadi “khalifah” di muka bumi ini dengan
sebaik-baiknya. Sebagai seorang khalifah, tentu yang menjadi perhatian yaitu
bagaimana ia bisa menempatkan dirinya sebagai uswah hasanah bahkan menjadi
pioneer terdepan. Sehingga tatanan masyarakat mampu tertata dengan kondusif
sebagaiaman situasi dan kondisi masing-masing. Ketika membahas pandidikan, maka
gurulah yang memiliki peran penting proses memanusiakan manusia tersebut. Guru
pemegang kunci akan keberhasilan proses membangun peradaban yang dimaksudkan.
Seiring
perkembangan zaman sekarang ini yang mengalir begitu deras, tentu hal itu harus
direspon positif oleh para pendidik. Respon tersebut salah satunya adalah dengan
penguasaan IT sebagai salah satu kompetensi yang harus dipenuhinya. IT harus
sudah include dalam diri pendidik, sehingga pembelajaran yang berlangsung
akan lebih dinamis. Selama ini, IT menjadi salah satu momok menakutkan bagi
beberapa pendidik, karena dianggap membutuhkan banyak biaya, banyak latihan dan
tenaga ekstra untuk menguasainya. Padahal, ketika IT sudah menjadi salah satu
kompetensi dan ketrampilan pendidik, maka proses pembelajaran akan lebih
efektif dan efisien. Pendidik akan lebih dimudahakan untuk mencapai target dan
tujuan pendidikan yang sudah direncanakan.
Dalam
pembelajaran, seorang pendidik dituntut menguasai berbagai ketrampilan mendesain
materi yang diajarkan. Desain pembelajaran ini memiliki peran penting bagi
peserta didik untuk memahami dan menguasai materi yang diajarkan oleh pendidik.
Sehingga pendidik yang kreatif dan inovatif dalam mendesain sebuah materi, akan
mampu memaksimalkan rancangan pembelajaran yang sudah dibuat. Dengan desain
yang baik, peserta didik tidak akan pernah mengalami kebosanan, ngantuk, dan
ramai sendiri di kelas. Ibarat sebuah menu makanan, maka ketika menu tersebut
disajikan dengan bentuk yang menarik, menjadikan orang yang akan
mengkonsumsinya pun akan tertarik dan bahkan siap menyantapnya dengan lahap.
Desain materi
membutuhkan kecerdasan dan kecermatan dari pendidik. Satu hal yang bisa
diupayakan adalah dengan memanfaatkan IT dalam proses pembelajarannya. Banyak
kemudahan yang ditawarkan untuk dapat dipergunakan. Penggunaan IT dalam proses
pembelajaran tidak banyak membutuhkan biaya, namun yang dibutuhkan adalah
upaya, semangat dan kemauan dari pendidik. Pendidik membutuhkan sedikit
waktunya untuk mau menyusun dan merancang pembelajaran yang ada. Hal inilah
yang sebenarnya pada saat sekarang ini harus direspon oleh dunia pendidikan,
khususnya oleh para pendidik. Bagi pemerintah, yang bisa dilakukan adalah
dengan berbagai keberpihakan dalam kebijakan dan aturan yang disusun.
Menyimak. Salam!
BalasHapussiaappp...ditunggu simakannya dlm bntuk uraian...hahaa
BalasHapuswww.gurutrenggalek.com makmum
BalasHapussiipppp
BalasHapus