Senin, 04 November 2013

“JAGONG KAJI” (Fenomena Sosial di balik Ritual Haji)



“JAGONG KAJI”
(Fenomena Sosial di balik Ritual Haji)
Masyarakat Indonesia pada bulan, minggu, atau hari-hari ini diharu-birukan oleh adanya berbagai perayaan sebagaimana yang selama ini sering dijumpai. Perayaan itu merupakan ungkapan rasa syukur dari seorang manusia atas nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Salah satu perayaan itu adalah tasyakuran haji, yaitu adanya saudara, kerabat, dan tetangga yang baru saja sukses menunaikan salah satu rukun Islam yang kelima yakni Ibadah haji. Ibadah haji merupakan satu ibadah yang memiliki tempat tersendiri, karena untuk bisa melaksanakannya harus memalui berbagai perjuangan baik fisik, materi, waktu dan yang lain. Sebagaimana contoh perjuangan itu adalah betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk bisa menunaikannya. Pun pula tenaga, fisik, atau badan yang harus benar-benar fit untuk bisa menunaikan berbagai ritual haji yang memang membutuhkan tenaga ekstra. Berbagai rintangan seperti teriknya matahari yang menyengat, desak-desakan dengan jamaah haji yang lain, dan juga terkadang membutuhkan perjalanan yang panjang.
Selain perjuangan tersebut, seseorang yang akan melaksanakan haji khususnya di Indonesia dan terlebih lagi jawa, harus menunggu antrian yang begitu lama sampai belasan tahun. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan seorang yang akan berhaji betul-betul membutuhkan ekstra dalam segala hal. Dengan latarbelakang kondisi haji tersebut, akhirnya menjadikan ibadah haji menjadi ibadah yang “spesial” bagi yang mampu melaksanakannya. Seseorang yang mampu melaksanakannya dengan baik merasa benar-benar telah mendapatkan anugerah yang luar biasa. Bahkan merasa telah menjadi muslim yang sempurna, karena rukun Islam yang terakhir telah sukses ia capai dengan sempurna. Pada beberapa kasus dapat dinyatakan banyak orang yang harus sampai menjual harta miliknya demi mencapai cita-cita mulia tersebut.
Beberapa akibat dari betapa dahsyatnya haji bagi seorang muslim di antaranya melekatnya gelar yang disandang seseorang yang telah selesai melaksanakan ibadah tersebut. Gelar seperti ini bisa dinyatakan hanya banyak ditemui di Indonesia dan sekitarnya. Gelar “haji” menjadi sebuah prestise tinggi bahkan mampu meningkatkan derajat dan status sosial. Penghormatan yang lebih diberikanmasyarakat kepada seseorang yang sudah haji. Namun demikian memang “kesucian” haji ini terkadang tidak diimbangi dengan tingginya moral dan kesalehan yang empunya gelar tersebut. Dan inilah sebenarnya yang dilupakan oleh beberapa orang, sehingga haji hanya sekedar menjadi ritual keagamaan tanpa ada makna dan hikmat kemanfaatan bagi yang melaksanakannya.
Mengamati kondisi perayaan tasyakuran haji, sebenarnya terdapat hal menarik yang dapat diungkapkan dan diamati bersama. Seseorang yang haji dengan rela harus merogoh kocek yang luar biasa banyaknya. Nominal yang besar dan tidak tanggung-tanggung lagi untuk dapat menyelenggarakan tasyakuran tersebut. Walaupun memang kondisi tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing, namun fenomena tersebut dapat dijadikan bahan pemikiran ulang untuk semua pihak. Dapat dihitung berapa dana yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaan hajinya, biaya keberangkatan haji yang tidak jarang melalui proses tasyakuran walimatul safar, belum lagi yang paling banyak adalah biaya setelah haji. “oleh-oleh” (souvenir) yang harus disediakan baik untuk keluarga, saudara, tetangga, teman kantor, teman kerja, dan orang-orang yang datang tuk “jagong kaji” (zaiarah haji).
Menilik sedikit kondisi jamaah ketika berada di Saudi Arabia (meliputi Makkah, Madinah, Jeddah dan kota-kota lain), menjadi sebuah kebiasaan (dan yang dihawatirkan sampai pada dataran keharusan/kewajiabn) untuk membelikan berbagai pernak-pernik haji. Keadaan seperti ini dalam tahap kewajaran, namun ketika amalan-amalan “sunnah” (penulis menganggap tasyakuran tersebut memang ada nilai positifnya sehingga masuk kategori sunnah) mengabaikan bahkan mengesampingkan amalan-amalan wajib dari berbagai rukun dan syarat haji. Seseorang disibukkan untuk menyiapkan “oleh-oleh” haji daripada fokus beribadah semaksimal mungkin. Semoga kebiasaan yang dapat dikategorikan “sunnah” tersebut tidak mengalahkan urgensi dan inti pokok ibadah wajib hajinya. Semoga menjadi haji yang mabrur..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar