Pada Jumat di masjid
Yarralumla Canberra kali ini sang khotib mengutib beberapa ayat tentang
beberapa ciri surga yang nanti disiapkan Allah untuk hamba-hambanya yang
beriman dan baik. Salah satu ciri tersebut adalah bahwa luas surga itu
seluas langit dan bumi ini. Dapat dibayangkan betapa luasnya surga
nanti. Bumi saja tidak semua bisa kita jelajahi luasnya dari ujung
sampai ujung dan itu belum cukup menggambarkan luasnya surga karena
masih ditambah luasnya langit. Memang
ini bukan tema yang dibahas oleh sang khotib. Yang ingin saya ambil
manfaat dari kutipan khotib tersebut adalah dengan mengkontekskan
kondisi masyarakat Indonesia khususnya umat Islam saat ini. Betapa telah
terjadi "penyempitan" makna surga kalau mengamati maraknya dan mudahnya
seseorang mengkafirkan orang lain yang berbeda pandangan, aliran,
madzhab apalagi beda agama. Sesat-menyesatkan, "syaikhul bid'ah (gurunya
ahli bid'ah), halal darahnya, neraka, serta masih banyak lagi ungkapan
dan julukan lainnya. Padahal kalau kembali pada masa rosul, seringnya
rosul dihina, diejek, diludahi bahkan hendak dibunuh, respon rosul malah
mendoakan اللهم اهدى قومي فإنهم لا يعلمون (rosul mah emang begitu
sifatnya...kata orang sunda). Gejala yang terus terasa semakin menuju
eskalasi mengerikan ini menjadikan surga sempit tidak seluas gambaran
Allah dalam kalamNya. Surga hanya akan dimasuki oleh sekelompok orang
yang tak pernah memandang orang lain bisa masuk ke dalamnya. Ya
sudahlah, silahkan anda masuk surga anda, saya akan masuk surga saya,
mereka masuk surga mereka, atau sepakat dengan Cak Nun, surga itu tidak
peting...silahkan anda memilih. Yang terpenting adalah سلمة الإنسان فى
حفظ اللسان (keselamatan seseorang terletak pada bagaimana menjaga lisan
atau mulut serta ucapannya).
Senin, 02 November 2015
Sabtu, 03 Oktober 2015
Jangan Bertanya…Tapi Bertanyalah…
Jangan Bertanya…Tapi
Bertanyalah…
Jangan bertanya kenapa hidupku susah
Jangan bertanya kenapa banyak masalah
Jangan bertanya kenapa Rizki tak
bertambah
Jangan bertanya kenapa pekerjaan sulit
diolah
Jangan bertanya kenapa pikiran selalu
gelisah
Jangan bertanya kenapa anak-anak
bikin ulah
Jangan bertanya kenapa istri/suami
selalu membantah
Jangan bertanya kenapa tetangga bikin
muka merah
Jangan bertanya kenapa hati ingin
selalu marah
Jangan bertanya kenapa karir tak kunjung
melangkah
Jangan bertanya kenapa studi lama
mengarah
Jangan bertanya kenapa pikiran tak
selalu cerah
Jangan bertanya kenapa harta lenyap
secara mudah
Namun……
Bertanyalah bagaimana kamu beribadah
Bertanyalah bagaimana kamu menunaikan
sholah
Bertanyalah bagaimana kamu mensyukuri
banyak ni’mah
Bertanyalah bagaimana kamu menjalani
hidup penuh ma’shiah
Bertanyalah bagaimana kamu
menyenangkan kedua orangtua di rumah
Bertanyalah bagaimana kamu melayani
istri/suami yang tabah
Bertanyalah bagaimana kamu mendidik
anak yang sholih/sholihah
Bertanyalah bagaimana kamu mencari
rizki yang berkah
Bertanyalah bagaimana kamu memuliakan
guru di sekolah
Bertanyalah bagaimana kamu menghormati
tetangga sebelah
Bertanyalah bagaimana kamu menghiasi
diri dengan akhlakul karimah
Bertanyalah bagaimana kamu menjadi
pribadi yang menebar kalimah thoyyibah
Bertanyalah bagaimana kamu menangis
di tengah malam yang lelah
Bertanyalah bagaimana kamu
berlapar-lapar puasa semisal Tarwiyah dan Arofah
Bertanyalah bagaimana kamu berbaik
sangka kepada-Nya dengan senyum merekah
Bertanyalah bagaimana kamu mengingat
Tuhan Yang Maha Pemurah
Maka, jangan pernah
bertanya ataupun menyalahkan orang lain bahkan buruk sangka kepada Tuhan, namun
tanyakan kepada dirimu sendiri, prilakumu sendiri, ibadahmu sendiri dan hati
serta imanmu sendiri. Dirimu itulah hidup dan nasibmu…
Rabu, 12 Agustus 2015
Itulah NU
Kalau ada yang mengatakan muktamar "riuh", itulah NU
Kalau ada yang mengatakan kiai nya mundur, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan kenapa angka 9, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan harus kiai sepuh, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan harus menguasai kitab kuning, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan yang mewarisi darah NU, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan harus sesuai salafunash shalihin, itulah NU
Asal kalian tahu....
Kalau ada yang Islam Nusantara, itulah NU
Kalau ada yang liberal, itulah NU
Kalau ada yang garis lurus, itulah NU
Kalau ada yang NKRI harga mati, itulah NU
Kalau ada ipnu/ippnu, anshor/fatayat, itulah NU
Kalau ada banser, muslimat, pmii, itulah NU
Kalau ada bahstul masail, itulah NU
Kalau ada rais amm, suriyah, tanfidziyah, itulah
Bahkan ya..biar akhi dan ukthi faham.....
Kalau ada yang tarawih 23 rakaat, itulah NU
Kalau ada yang pake qunut, itulah NU
Kalau ada yang pake "ushalli", itulah NU
Kalau ada yang pake wiridan jahr, itulah NU
Kalau ada yang pake shalawatan, itulah NU
Kalau ada yang pake manaqiban, itulah NU
Kalau ada yang pake tahlilan, itulah NU
Masih kurangkah...?
Kalau ada yang pake syawalan kupatan, itulah NU
Kalau ada yang suka thariqohan, itulah NU
Kalau ada yang suka ziarah qubur, itulah NU
Kalau ada yang suka "kejadhugan", itulah NU
Kalau ada yang suka sowan ulama, kiai, habaib, itulah NU
Namun, harus DIPERHATIKAN...
Kalau ada yang suka mengkafirkan, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka memfitnah, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka memprovokasi, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka membid'ahkan, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka kekerasan dlm dakwah, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka terorisme, itu BUKAN NU
Jayalah NU...Jayalah NKRI...
Mari bersatu dalam ukhuwwah nahdhiyyah wa NKRI-yah...
Membangun negeri, di bawah naungan ridha ilahi & shalawat kpd Nabi
Kalau ada yang mengatakan kiai nya mundur, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan kenapa angka 9, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan harus kiai sepuh, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan harus menguasai kitab kuning, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan yang mewarisi darah NU, itulah NU
Kalau ada yang mengatakan harus sesuai salafunash shalihin, itulah NU
Asal kalian tahu....
Kalau ada yang Islam Nusantara, itulah NU
Kalau ada yang liberal, itulah NU
Kalau ada yang garis lurus, itulah NU
Kalau ada yang NKRI harga mati, itulah NU
Kalau ada ipnu/ippnu, anshor/fatayat, itulah NU
Kalau ada banser, muslimat, pmii, itulah NU
Kalau ada bahstul masail, itulah NU
Kalau ada rais amm, suriyah, tanfidziyah, itulah
Bahkan ya..biar akhi dan ukthi faham.....
Kalau ada yang tarawih 23 rakaat, itulah NU
Kalau ada yang pake qunut, itulah NU
Kalau ada yang pake "ushalli", itulah NU
Kalau ada yang pake wiridan jahr, itulah NU
Kalau ada yang pake shalawatan, itulah NU
Kalau ada yang pake manaqiban, itulah NU
Kalau ada yang pake tahlilan, itulah NU
Masih kurangkah...?
Kalau ada yang pake syawalan kupatan, itulah NU
Kalau ada yang suka thariqohan, itulah NU
Kalau ada yang suka ziarah qubur, itulah NU
Kalau ada yang suka "kejadhugan", itulah NU
Kalau ada yang suka sowan ulama, kiai, habaib, itulah NU
Namun, harus DIPERHATIKAN...
Kalau ada yang suka mengkafirkan, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka memfitnah, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka memprovokasi, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka membid'ahkan, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka kekerasan dlm dakwah, itu BUKAN NU
Kalau ada yang suka terorisme, itu BUKAN NU
Jayalah NU...Jayalah NKRI...
Mari bersatu dalam ukhuwwah nahdhiyyah wa NKRI-yah...
Membangun negeri, di bawah naungan ridha ilahi & shalawat kpd Nabi
Selamat & Sukses muktamar NU dan Muhammadiyyah
Mari berbakti dan mengabdi..
Di sanalah aku selalu merasa bahagia, semoga berkah..
Mari berbakti dan mengabdi..
Di sanalah aku selalu merasa bahagia, semoga berkah..
Selasa, 11 Agustus 2015
Jawabku: NKRI atau bukan NKRI
Yang terkenal dengan perjuangan bambu runcing? Jawabku: pahlawan NKRI
Yang punya pahlawan tangguh rela berkorban untuk kemerdekaan? Jawabku: NKRI
Yang punya Diponegoro, Jendral Sudirman, Kartini dll ? Jawabku: NKRI
Cut Nyak Dien, Panglima Polim, Sekarno-hatta berjuang untuk siapa? Jawabku: kesatuan NKRI
Bhineka Tunggal Ika hanya dimiliki oleh? Jawabku: NKRI
Pancasila yang menghargai perbedaan namun berke-Tuhan-an ada di..? Jawabku: NKRI
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu bahasa kita...lagu itu ada di..? Jawabku: NKRI
Bendera Merah putih dimiliki oleh? Jawabku: NKRI
Yang punya syawalan, mudik dan kupatan? Jawabku: NKRI
Muhammadiyah muktamar, demi siapa? Jawabku: NKRI
Muhammadiyah muktamar, untuk apa? Jawabku: Kemajuan NKRI
NU muktamar, demi siapa? Jawabku: NKRI
NU muktamar, untuk apa? Jawabku: Peradaban NKRI
KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’arie berjuang untuk? Jawabku: keutuhan NKRI
Buya Syafi’i Ma’arif: Khilafah tidak memiliki akar pijakan syar’i? Jawabku: beliau berjiwa NKRI
Kalau ada jiwa yang cinta tanah air Indonesia? Jawabku itulah manusia NKRI
Namun.....
Yang tidak menghormati pahlawan bangsa Indonesia adalah? Jawabku: bukan penghuni NKRI
Yang tidak mau hormati merah putih? Jawabku: tidak berjiwa NKRI
Menurutnya nasionalisme itu tidak penting, orang mana? Jawabku: bukan NKRI
Nasionalisme koq dibela-belain? Jawabku: nda pernah ngaji di NKRI
Pancasila itu tidak benar dan tidak Islami, bagaimana? Jawabku: Kluar saja dari NKRI
Yang mau mendirikan khilafah? Jawabku: jangan hidup di NKRI
KTP nya warga negara Indonesia, tapi koq mau ganti pancasila? Jawabku: ganti KTP slain NKRI
Katanya orang Indonesia tapi nda mau “Agustusan”, bagaimana? Jawabku: tidak faham NKRI
Baru kemarin sore sudah tidak mau mengakui merah putih? Jawabku: jangan injak tanah NKRI
Sedikit-dikit haram, kafir, bid’ah? Jawabku: bukan santri NKRI
Bagaimana kalau ada manusia seperti semunya tadi? Jawabku: silahkan dikuburkan di luar NKRI
Bentar-bentar.....
Emang dia siapa sih?
Emang dia tinggal di mana sih?
Emang dia keturunan siapa sih?
Ngerasa ga sih, kalo dia hidup di NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia lahir di NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia menghirup udara NKRI?
Ngerasa ga sih, kl dia minum air dari mata air NKRI?
Ngerasa ga sih, kl dia makan dari hasil bumi NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo (maaf) dia buang hajat di tanah NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo KTP nya NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia belajar di NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia diajari oleh orang2 NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia mencari makan di NKRI?
Sadarlah wahai kawanku…
Insaflah wahai sahabatku….
Berfikirlah wahai saudaraku…
Kembalilah wahai tetanggaku…
Tersenyumlah bersama Sang Garuda yang perkasa
Genggamlah erat merah putih menyertai langkahmu yang jernih
Tatap masa depan dengan cita-cita para pahlawan
Gapai kesejahteraan dengan wasiat para pejuang kemerdekaan
Tanami negeri dengan tumbuhan sila-sila lima yang menyiratkan makna suci
Sirami bumi pertiwi dengan spirit Kartini pahlawan negeri yang santri
Kokohkan bangunan persatuan dengan kobaran semangat Panglima Sudirman
Kenalkan pada dunia bahwa NKRI tetap jaya
Didiklah generasi awal bahwa NKRI telah FINAL
Goreskan semangat pada diri bahwa NKRI HARGA MATI
Trimakasih ibu pertiwi, kau perkenankan aku dan kluargaku tinggal di tanahmu ini…
Selamat HUT RI ke-70, Semoga persatuan dan kesatuan terus terjaga, semoga NKRI berkemajuan menuju peradaban yang gemilang.
Untuk para pahlawan dan pejuang, lahum al faatihah..
Di sanalah aku selalu bahagia, semoga berkah.
Yang punya pahlawan tangguh rela berkorban untuk kemerdekaan? Jawabku: NKRI
Yang punya Diponegoro, Jendral Sudirman, Kartini dll ? Jawabku: NKRI
Cut Nyak Dien, Panglima Polim, Sekarno-hatta berjuang untuk siapa? Jawabku: kesatuan NKRI
Bhineka Tunggal Ika hanya dimiliki oleh? Jawabku: NKRI
Pancasila yang menghargai perbedaan namun berke-Tuhan-an ada di..? Jawabku: NKRI
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu bahasa kita...lagu itu ada di..? Jawabku: NKRI
Bendera Merah putih dimiliki oleh? Jawabku: NKRI
Yang punya syawalan, mudik dan kupatan? Jawabku: NKRI
Muhammadiyah muktamar, demi siapa? Jawabku: NKRI
Muhammadiyah muktamar, untuk apa? Jawabku: Kemajuan NKRI
NU muktamar, demi siapa? Jawabku: NKRI
NU muktamar, untuk apa? Jawabku: Peradaban NKRI
KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’arie berjuang untuk? Jawabku: keutuhan NKRI
Buya Syafi’i Ma’arif: Khilafah tidak memiliki akar pijakan syar’i? Jawabku: beliau berjiwa NKRI
Kalau ada jiwa yang cinta tanah air Indonesia? Jawabku itulah manusia NKRI
Namun.....
Yang tidak menghormati pahlawan bangsa Indonesia adalah? Jawabku: bukan penghuni NKRI
Yang tidak mau hormati merah putih? Jawabku: tidak berjiwa NKRI
Menurutnya nasionalisme itu tidak penting, orang mana? Jawabku: bukan NKRI
Nasionalisme koq dibela-belain? Jawabku: nda pernah ngaji di NKRI
Pancasila itu tidak benar dan tidak Islami, bagaimana? Jawabku: Kluar saja dari NKRI
Yang mau mendirikan khilafah? Jawabku: jangan hidup di NKRI
KTP nya warga negara Indonesia, tapi koq mau ganti pancasila? Jawabku: ganti KTP slain NKRI
Katanya orang Indonesia tapi nda mau “Agustusan”, bagaimana? Jawabku: tidak faham NKRI
Baru kemarin sore sudah tidak mau mengakui merah putih? Jawabku: jangan injak tanah NKRI
Sedikit-dikit haram, kafir, bid’ah? Jawabku: bukan santri NKRI
Bagaimana kalau ada manusia seperti semunya tadi? Jawabku: silahkan dikuburkan di luar NKRI
Bentar-bentar.....
Emang dia siapa sih?
Emang dia tinggal di mana sih?
Emang dia keturunan siapa sih?
Ngerasa ga sih, kalo dia hidup di NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia lahir di NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia menghirup udara NKRI?
Ngerasa ga sih, kl dia minum air dari mata air NKRI?
Ngerasa ga sih, kl dia makan dari hasil bumi NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo (maaf) dia buang hajat di tanah NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo KTP nya NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia belajar di NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia diajari oleh orang2 NKRI?
Ngerasa ga sih, kalo dia mencari makan di NKRI?
Sadarlah wahai kawanku…
Insaflah wahai sahabatku….
Berfikirlah wahai saudaraku…
Kembalilah wahai tetanggaku…
Tersenyumlah bersama Sang Garuda yang perkasa
Genggamlah erat merah putih menyertai langkahmu yang jernih
Tatap masa depan dengan cita-cita para pahlawan
Gapai kesejahteraan dengan wasiat para pejuang kemerdekaan
Tanami negeri dengan tumbuhan sila-sila lima yang menyiratkan makna suci
Sirami bumi pertiwi dengan spirit Kartini pahlawan negeri yang santri
Kokohkan bangunan persatuan dengan kobaran semangat Panglima Sudirman
Kenalkan pada dunia bahwa NKRI tetap jaya
Didiklah generasi awal bahwa NKRI telah FINAL
Goreskan semangat pada diri bahwa NKRI HARGA MATI
Trimakasih ibu pertiwi, kau perkenankan aku dan kluargaku tinggal di tanahmu ini…
Selamat HUT RI ke-70, Semoga persatuan dan kesatuan terus terjaga, semoga NKRI berkemajuan menuju peradaban yang gemilang.
Untuk para pahlawan dan pejuang, lahum al faatihah..
Di sanalah aku selalu bahagia, semoga berkah.
Jumat, 24 Oktober 2014
Senja Di atas Kereta Majapahit
Sayup2 ku dengar suara roda kereta bersahut-sahutan. Menghantarkanku tuk sampai ke ibu kota, di mana bnyak orng menaruh jutaan impian di sana. Perlahan aq meninggalkan kota tercintaku Tulungagung, di mna stiap hari aku membangun mimpi2 indahku tuk jadi nyata. Hidup menurtku adlah upaya menggoreskan tinta sejarah tuk menjadi buku cerita yg indah penuh nilai sastra cinta sang pujangga. Detik demi detik, jam berganti, hari terus berputar bak jarum ...jam yg tak pernah berhenti. Pun diri ini, ku coba torehkan lukisan kehidupan yang penuh makna dg mencoba membuka dan mengisi lembar demi lembar buku ceritaku. Ku rangkai dg sgla upaya agar terwujud impian nan jauh di atas sana. Namun memang manusia bukanlah supermen, bahkn jg malaikat yg sempurna tak ternoda. Kadang tinta yg ku goreskan tak ku sadari berwarna merah, wl sbnrnya ku ingin sll bs menulis dg tinta hitam kelam yg mewujud dlm jelas dan indahnya tulisan buku kehdpnku. Terkadang aq tak kuasa menghapus kesalahan tulisku dg "stip atau tipex" laku n ucapanku. Tak terasa sdh bnyk lembaran bukuku tlah memerah, namun ku yakin wl lembaran itu tdk bs ku hapus, namun yg Maha 'afuwwun ghafur lbh luas dan kuasa tuk skdr menghapus atau membuang lembaran itu. Perjalanan hidup ni blm berahir kawan (kata sang hati)..melangkahlah dg pnh semangat, kluarga kclmu adalah harta terindahmu yg akan sll menemanimu, menyayangimu, mensupportmu dg tak kenal lelah. Maka jangan lelah kau goreskan tinta kesuksesan dlm stiap lmbaran buku khdpnmu...ayo..gapai indahnya mentari di pagi hari, indahnya rembulan wktu purnama, indahnya bintang yg berjajar tak lelah menerangi dunia...sukses ada di dpn sana, sukses tlah menantimu...senja di atas kereta majapahit tlah menjadi saksi indah awal kesuksesanmu...smg majapahit menjadi isyarat kesuksesanku sbgmn kesuksesan majapahit mengepakkan sayapnya dg pnh gemilang dg panglima besar gajahmada...smg berkah...
In The New World
Sdh 4 hari ini aq menjalani rutinitas di ibu kota. Sebuah pengalaman hidup yang tak pernah sedikitpun aq bayangkan sebelumnya. Setiap pagi kaki ini melangkah menyusuri gang kecil tuk menuju sebuah tempat yang memang baru, tempat di mana aq menimba ilmu yang baru krna sblmnya tdk pernah mendalaminya. Derap langkah kaki ini tak sendirian -bak pasukan paskibraka- yang bersamaan sang mentari mulai menyapa mayapada, di sekitarnya mengayuh juga kaki-kaki yang penuh... dengan optimisme menuju pada cita-cita masa depan. Diriku berjalan berada di samping gedung-gedung pencakar langit, bersamaan lalu lalang mobil yang silih berganti berjalan seakan tak pernah berhenti. Seakan berlomba dengan ribuan orang, diriku tak mau kalah tuk berhasil dalam menggapai secercah harapan yang menanti di depan sana. Ku jalani hari-hariku yang kian hari kian kurasakan nikmatnya belajar. Langkah kaki ini msh panjang ke depan sana. Namun sampai detik ini diriku merasa amat sangat-sangat beruntung mendapatkan kesempatan yang luar biasa, kesempatan yang tdk smua orang sepertiku bisa mengenyamnya. Aku yang anak desa, orangtua yang tidak berpendidikan tinggi, mhsswa yang bermodalkan usaha dan doa, ternyta bisa merasakan anugerah yang besar. Semoga, dunia baru; komunitas baru, kehidupan sosial yg baru, keilmuan yang baru (ku dalami), lifestyle baru, mindset baru, mampu membawaku pada pencerahan lembaran-lembaran kehidupan yang akan ku jalani selanjutnya...smg dimudahkan, disehatkan, difahamkan dan diberkahi oleh Tuhan yang Maha Qadim (bkn Yang Maha Hudust/baru)...IALF jakarta dg segenap staff, pengajar (baik dr dlm maupun luar negeri) menjadi saksi dan isnpirasi kehdpnku..I lave u all..smg Tuhan membalas jasa kalian dg yg lebih baik..
Tahun Baru; Moment Muhasabah & Hijrah
Tahun Baru; Moment Muhasabah & Hijrah
Tak terasa tahun telah berganti, bulan telah bergeser, hari terus berjalan, jarum jam terus berdentang, menit dan detik tak mau berhenti berputar. Kini telah kita masuki tahun baru hijriah 1436 H, kita tinggalkan 1435 H. Kita beralih tuk gapai masa depan dengan berpijak pada pengalaman pada tahun sebelumnya. Salah satu inti nilai tahun baru yang dapat dipetik adalah persiapan seseorang tuk menghadapi ahir hayatnya. Tahun baru adalah mome...nt yang tepat tuk instropeksi diri atau muhasabah, sebagaimana sebuah ungkapan, haasibuu anfusakum qobla antuhasabu ( hitung2lah dirimu sendiri sebelum engkau dihitung). Dalam beberapa kitab para salaf al-shalih memberikan tuntunan untuk menghitung amal perbuatannya tiap hari, dengan kata lain merekap amal perbuatannya dengan membuat semacam neraca amal baik dan buruk. Seberapa banyak atau apa saja amal baik yang dilakukan dan apa saja amal buruk yg sudah dikerjakan. Dengan rekap perhari akan diketahui rekap perminggu, dengan mendapati rekap perminggu akan dihitung rekap perbulan, dengan diperoleh rekap perbulan maka dijumpai rekap pertahun. Dan inilah yang akan dapat menuntun seseorang pada koreksi diri sehingga ia akan menuju dan selalu istiqomah pada ajaran Tuhannya. Jika pada tahun sebelumnya masih mudah melakukan hal yang dilarang Tuhan, maka tahun ke depannya harus mampu hijrah pada amal yang baik yang diridhaiNya. "Hidup BUKANlah bagaimana kita MEMULAInya dengan baik, namun sebaliknya bagaimana MENGAKHIRInya dengan sebaik2nya, mengakhirinya dengan rapor amal baik, dengan nilai ijasah kehidupan yg kumlaude, dengan gelar husnul khatimah". Semoga tahun2 ke depan akan selalu dalam kesejahteraan, kesehatan, kemudahan, kefahaman, kekuatan dhohir batin, dan keberkahan..aminnn...
Tak terasa tahun telah berganti, bulan telah bergeser, hari terus berjalan, jarum jam terus berdentang, menit dan detik tak mau berhenti berputar. Kini telah kita masuki tahun baru hijriah 1436 H, kita tinggalkan 1435 H. Kita beralih tuk gapai masa depan dengan berpijak pada pengalaman pada tahun sebelumnya. Salah satu inti nilai tahun baru yang dapat dipetik adalah persiapan seseorang tuk menghadapi ahir hayatnya. Tahun baru adalah mome...nt yang tepat tuk instropeksi diri atau muhasabah, sebagaimana sebuah ungkapan, haasibuu anfusakum qobla antuhasabu ( hitung2lah dirimu sendiri sebelum engkau dihitung). Dalam beberapa kitab para salaf al-shalih memberikan tuntunan untuk menghitung amal perbuatannya tiap hari, dengan kata lain merekap amal perbuatannya dengan membuat semacam neraca amal baik dan buruk. Seberapa banyak atau apa saja amal baik yang dilakukan dan apa saja amal buruk yg sudah dikerjakan. Dengan rekap perhari akan diketahui rekap perminggu, dengan mendapati rekap perminggu akan dihitung rekap perbulan, dengan diperoleh rekap perbulan maka dijumpai rekap pertahun. Dan inilah yang akan dapat menuntun seseorang pada koreksi diri sehingga ia akan menuju dan selalu istiqomah pada ajaran Tuhannya. Jika pada tahun sebelumnya masih mudah melakukan hal yang dilarang Tuhan, maka tahun ke depannya harus mampu hijrah pada amal yang baik yang diridhaiNya. "Hidup BUKANlah bagaimana kita MEMULAInya dengan baik, namun sebaliknya bagaimana MENGAKHIRInya dengan sebaik2nya, mengakhirinya dengan rapor amal baik, dengan nilai ijasah kehidupan yg kumlaude, dengan gelar husnul khatimah". Semoga tahun2 ke depan akan selalu dalam kesejahteraan, kesehatan, kemudahan, kefahaman, kekuatan dhohir batin, dan keberkahan..aminnn...
Rabu, 27 November 2013
GAGAP BACA TULIS QURAN (BTQ), GAK GAUL MENNN.....!!!
Kampus
STAIN Tulungagung merupakan lembaga pendidikan di bawah naungaun Kementerian
Agama, yaitu di bawah Dirjen DIKTIS. Tentu sebagai lembaga pendidikan Islam,
maka menjadi sebuah keniscayaan bahwa seluruh civitas akademikanya menerapkan
nilai-nilai keIslaman yang ada. Salah satu kompetensi yang musti dikembangkan
adalah penguasaan baca tulis al-qur’an. Menjadi hal yang ironis manakala
mahasiswa, dosen, karyawan dan civitas yang lain, yang masuk pada civitas STAIN
tidak menguasai bahkan gagap akan BTQ.
Setelah
beberapa tahun mengikuti proses belajar mengajar di kampus tercinta ini,
fenomena umum yang ditemukan adalah adanya banyak mahasiswa STAIN yang tidak
dengan baik menguasai baca tulis al-qur’an. Padahal BTQ seharusnya merupakan
salah satu pembeda mahasiswa STAIN dengan yang lain. Sebagai nilai lebih
mahasiswa STAIN adalah penguasaan BTQ. Dengan
penguasaan BTQ, berarti menjadi bukti akan keseriusan dan bukti keimanan
seseorang. AL-quran merupakan dasar mutlak dalam menjalankan seluruh ajaran
Islam. Bagaimana seseorang mengamalkan
sebuah ajaran agama manakala tak berdasar, bahkan tidak tau dasar pokoknya.
Menjadi keprihatinan bersama manakala mahasiswa alumnus STAIN gagap akan BTQ.
Pada
dasarnya kampus sudah memberikan tahapan-tahapan dalam mengajarkan BTQ
tersebut. Kampus telah berupaya untuk memaksimalkan kemampuan mahasiswa dalam
BTQ tersebut. Tahapan awal misalnya dimulai ketika rekrutmen mahasiswa baru.
Salah satu mata ujian yang ada adalah BTQ. Memang input mahasiswa STAIN
sangatlah beragam, yakni dari berbagai backroud sekolah sebelumnya. Tidak semua
mahasiswa berasal dari Madrasah ataupun pesantren, ataupun mahasiswa yang
pernah mengenyam pendidikan agama pada berbagai majelis ta’lim. Untuk
mewujudkan mahasiswa yang menguasai BTQ, pada proses selanjutnya adalah adanya
mata praktikum BTQ, dengan buku panduan yang sudah dicetak dan dibagikan kepada
mahasiswa pada semester pertama.
Namun
demikian, ternyata berjalannya mata praktikum tersebut belum bisa mencapai
target yang maksimal. Penyebab ketidakmaksimalan tersebut tidak hanya dari
sistem yang kurang efektif, namun yang lebih penting adalah dari antusisme
mahasiswa yang kurang. Bahkan banyak mahasiswa yang cenderung “menjauhi” mata
praktikum tersebut dengan alasan non SKS atau tidak ada nilainya. Pada tahapan
selanjutnya, kampus terus melaksanakan efektifitas BTQ tersebut, misalnya
ketika ujian komprehensif dan ujian skripsi. Semua upaya tersebut ternyata
belum membuahkan hasil maksimal sebagaimana yang ditargetkan.
Beberapa
saran dan rekomendasi yang dapat penulis sampaikan di antaranya adalah:
1.
Memaksimalkan proses
rekrutmen mahasiswa baru, dengan memberikan seleksi yang ketat.
2.
Memaksimalkan mata
praktikum BTQ dengan mengintegrasikan pada sistem perkuliahan. Misalnya saja
kelulusan BTQ menjadi syarat untuk pengajuan judul skripsi, syarat ujian
skripsi atau syarat PPL dan KKN
3.
Mengelompokkan mahasiswa
baru dalam kelas praktikum BTQ sesuai kemampuan masing-masing. Sehingga akan
dapat dikontrol mana-mana mahsiswa yang sudah mampu dan yang belum mampu.
4.
Memaksimalkan peran wali
studi dari dosen, dengan memberikan perhatian besar kepada mahasiswa yang
dibimbingnya terkait penguasaan BTQ tersebut.
5.
Menciptakan lingkungan yang
mendukung akan berkembangnya dan “menjamurnya kecintaan kepada al-qur’an,
misalnya dengan ada bulan cinta quran, 1 hari satu ayat, dan yang lainnya.
6.
Sering mengadakan iven atau
perlombaan yang terkait dengan al-qur’an.
7.
Perhatian kampus ataupun pimpinan
kampus, ditunjang oleh seluruh dosen untuk terus mengkontrol mahasiswa terkait
dengan BTQ tersebut.
8.
Diadakan sema’an al-quran
secara rutin.
9.
Memaksimalkan fungsi majsid
kampus dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang positif.
Pada saat ini, berbagai upaya dari kampus sudah
dilakukan, misalnya saja degan memberikan reward kepada hafidz/hafidzah. Dan
upaya ini harus didukung oleh semua pihak agar dapat tercapai rencana yang
disusun. Berbagai upaya ini harus terus dikawal oleh semua civitas, dan yang
terpenting oleh para mahasiswa. Gejala umum mahasiswa yang tidak bisa BTQ tersebut
harus segera diupayakan diminimalisir sedini mungkin, sehingga STAIN
betul-betul menjadi kampus unggulan, yang diminati masyarakat dan mampu
mencetak generasi yang unggul yang mampu berkompetisi di manapun dan kapan pun
berada. Semoga cita-cita besar ini mampu diwujudkan bersama. Kamis, 14 November 2013
“PLAGIARISME” MASUK KURIKULUM
“PLAGIARISME” MASUK KURIKULUM
HM.Muntahibun Nafis
Semalem ketika mengikuti sesi pertama pada
Konsultasi Pengelola Jurnal Ilmiah Nasional Dirjen Diktis Kemenag RI dengan
narasumber Prof. Ali Saukah (dari UM), saya sangat terkesan dengan ungkapan: “plagiatisasi
harus masuk kurikulum”. Selama ini memang karya ilmiah dalam bentuk apapun dan
dalam keilmuan apapun menjadi salah satu unsur penting dalam civitas akademik
khusunya Perguruan Tinggi (PT). Karya ilmiah seperti jurnal menjadi hal mutlak
yang tak dapat dipisahkan lag dari urat nadi kampus dan seluruh civitas di
dalamnya. Bahakan secara ekstrem, kampus dapat dinilai dari kualitas jurnal
yang dikembangkannya. Baik buruknya kampus sangat dipengaruhi oleh baik
buruknya jurnal yang dikelolanya.
Dengan begitu urgennya jurnal bagi kampus,
maka pemerintah yang dalam hal ini Kemedikbud maupun Kemenag bahkan beberapa
kementerian yang lain seperti Kemenpan juga ikut serta dalam mengurusi “perjurnalan”
tersebut. Berbagai peraturan dan undang-undang telah disusun guna menjaga
bahkan mengembangkan dan memajukan jurnal tersebut. Sebagai salah satu bukti
nyata kepedulian pemerintah tersebut adalah adanya aturan bahwa untuk kenaikan
pangkat seorang PNS seperti guru dan dosen harus menyertakan jurnal ilmiahnya.
Sehingga guru dan dosen (utamanya) benar-benar dituntut untuk kreatif dan
cerdas agar mampu menghasilkan karya ilmiah (tulisan) yang dimuat di jurnal.
Salah satu aturan pemerintah yang mengatur
persoalan jurnal ialah Permendiknas No 22/2011 tentang Terbitan Berkala. Dalam
peraturan tersebut disebutkan beberapa tujuan penerbitan jurnal, di antaranya:
(1) meregristasi kegiatan kecendikiaan, (2) menyertifikasi hasil kegiatan yang
menjadi prasyarat ilmiah, (3) mendeseminasikannya secara meluas, dan beberapa
tujuan yang lain. Namun pada dasarnya, tujuan utama penerbitan jurnal adalah
bagaimana seorang guru dan dosen ikut serta dalam kontribusi pengembangan
keilmuan dan pengetahuan. Sehingga pada akhirnya dengan adanya jurnal tersebut
pemerintah memberi penghargaan bagi si-penulis, yang kemudian diterjemahkan
dalam bentuk kredit poin.
Begitu pentingnya peran jurnal dalam dunia
pendidikan menjadikan seorang pendidik perlu meresponnya dengan baik. Sedikit
menengok ke belakang dalam sejarah peradaban masa kejayaan Islam, maka di sana
banyak ditemukan karya-karya monumental para tokoh (dalam bidangnya
masing-masing) yang kemudian memberikan sumbangsig besar dalam kemajuan
peradaban tersebut. Sehingga dengan adanya banyak karya dan tulisan tersebut
akan memberikan banyak manfaat tidak hanya untuk masa penulis itu saja, namun juga
masa depan yang jauh. Karena sesuatu yang tertulis akan mudah disimpan, dibaca
kembali dan dipelajari kembali. Pada perkembangannya, karya tulis yang kemudian
dimuat dalam sebuah jurnal, ternyata tidak lepas dari pasang-surut masalah yang
dihadapinya, dan salah satu masalah serius yang dihadapi adalah merebaknya
plagiatisasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah
penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain
dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap
sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain (http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme).
Inilah sebenarnya yang dihawatirkan banyak kalangan agar tidak banyak merebak khususnya
di PT. Sehingga pemerintah benar-benar memberikan sanksi berat pagi seseorang
yang melakukan plagiat.
Untuk mengantisipasi dan meminimalisir
plagiasi, maka yang bisa dimulai oleh seorang pendidik adalah memasukkan
materi/bab plagiarisme tersebut dalam kurikulum. Kurikulum yang dimaksudkan
disini bukanlah kurikulum tertulis, dalam arti bahwa materi plagiarisme menjadi
sebuah mata kuliah tersendiri, namun yang dimaksudkan adalah menyelipkan materi
tersebut dalam seluruh proses pembelajaran di kelas, seperti ketika menjelaskan
sebuah materi tertentu. Jadi dosen bisa memberikan pesan-pesan aturan, bahaya
atau akibat, dan tidak baiknya melakukan plagiarisme. Proses ini
dapatlahdilakukan dosen sejak dini, misalnya saja dimulai ketika penyusunan
makalah. Jadi mahasiswa diajari bagaimana menuliskan karya ilmiah yang baik dan
benar, tidak harus melalui mata kuliah karya tulis ilmiah dan benar.
Pada saat ini, jurnal mulai merambah pada
dunia online, dengan maksud bahwa jurnal tidak hanya yang berbentuk print out
paper secara manual. Dan kondisi seperti ini memang sudah menjadi perkembangan
dan kemajuan perjurnalan, tidak hanya sekala nasional namun juga internasional.
Dan lagi-lagi ini yang harus direspon dengan baik oleh pendidik, dengan
menyiapkan diri dalam penguasaan berbagai kompetensi dan ketrampilan yang
dibutuhkan. Sehingga nantinya tidak ada lagi istilah Gaptek (gagap teknologi)
bagi pendidik dan terlebih lagi kampus (pengelola jurnal). Semoga dengan
masukknya materi plagiarisme dalam kurikulum ini akan dapat meminimalisir
bahkan menghilangkan terjadinya plagiarisme di negeri tercinta ini. Sehingga
ilmu dan pengetahuan akan semakin berkembang dan maju dengan baik.
Langganan:
Postingan (Atom)